M. Solihin Humaidy, SH. MH: Anak Kampung Yang Sukses Menjadi Advokat Dijakarta

  • Whatsapp

 

Jakarta, diberita.com – Tidak Semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk sukses di Jakarta. Lahir dan dibesarkan di kampung bukan berarti tidak memiliki kesempatan. Banyak tokoh besar yang sukses, datangnya dari kampung. Sebut saja Joko Widodo, Jusuf Kala, Fadel Muhamad atau Aburizal Bakrie. Tentu masih banyak lagi toko besar yang berasal dari kampung.

Kemauan dan tekad yang tinggi menjadi modal besar untuk meraih kesuksesan di Jakarta. M. Solihin, SH. MH. anak seorang transmigran Lampung pada tahun 1948, merupakan salah satu potret keberhasilan orang tua transmigran. Solihin adalah anak ke 8  dari 8 saudara demikian pria kalem ini biasa disapa mengaku ayahnya adalah transmigran pertama dari Jawa yang dikirim Belanda ke Desa Ramat Aji, Batang Hari Nuban, Lampung Timur, Lampung pada tahun 1948.

Sebuah desa kecil di Lampung Timur menjadi saksi sejarah Solihin merajut mimpi menjadi seorang penegak hukum. Awalnya bercita-cita menjadi hakim tetapi kandas. Dia pun kemudian memilih menjadi seorang advokat. Semuanya diraih dengan kerja keras tanpa lelah. Cita-cita menjadi hakim itu muncul ketika Solihin sadar bahwa hakim adalah profesi paling superior di bumi karena bisa menghukum seseorang yang diyakininya bersalah.

Menurut pria kelahiran 1971 ini, kesadaran itu tumbuh ketika duduk di bangku SMP kelas III. Remaja tanggung ini dihadapkan ke pengadilan sebagai seorang saksi dalam perkara penganiayaan (Pasal 170 KUHP). Meskipun baru pertama kali berurusan hukum di pengadilan, Solihin tidak merasa takut atau sungkan dengan aparat penegak hukum.
Dia justru menunjukan sikap polosnya. Ketika sidang di Pengadilan Negeri Tanjung Karang Lampung di mulai, Solihin justru bermain dengan memutar-mutar kursi roda yang sedang dia duduki. Kursi khusus untuk saksi atau terdakwa. Melihat tingkah laku siswa SMP ini membuat majelis hakim geram. Seorang hakim pun membentaknya dan mengancam akan menjebloskan ke dalam penjara.

“Saya dibentak-bentak oleh hakim karena memutar-mutar kursi. He…kamu! diam ya… kalau tidak bisa diam saya penjarakan kamu,” ujar Hakim tersebut dengan nada tinggi. Sontak Solihin terdiam. Rasa takut pun membuncah. Dalam hatinya dia bergumam. “Hakim kok enak banget. Bisa bentak-bentak orang dan bisa memasuki orang dalam penjara pula. Enak benar jadi hakim,” ujar lulusan master hukum Universitas 17 Agustus Jakarta ini.

Penasaran dengan kekuasaan yang dimiliki hakim Solihin pun menanyakan hal itu ke orang tuanya. Siapa sih hakim itu. Menurut penjelasan orang tuanya hakim itu wakil Tuhan di dunia. Namun untuk menjadi hakim harus sekolah tinggi. “Kuliahmu harus tinggi dan di Lampung tidak ada,” ujar orang tuanya menjelaskan. Sejak saat itu tekadnya terus tumbuh. Setelah lulus Sekolah Pendidikan Guru Negeri (SPGN), Solihin hijrah ke Jakarta dan mengambil kuliah di Fakultas Hukum Universitas Islam Jakarta.

“Kampus-kampus di lampung saat itu jarang ada Fakultas Hukum. Lampung Timur itu kota kecil. Kuliah di Jakarta tidak mudah. Biaya hidup dan kuliah sangat mahal. Ya untuk biaya kuliah orang tua jual padi, ternak, jual apa aja. Tapi akhirnya lulus dengan hasil cum laud,” ujarnya bangga.

Setelah lulus kuliah, Solihin mengikuti beberapa kali test menjadi hakim. Namun saying, dia selalu gagal. Manusia boleh merencanakan tetapi tetap Tuhan yang menentukan. “Saya ikut beberapa kali tes, tetapi tidak lulus. Mungkin itu bukan nasib saya,” ujar Solihin kepada diberita.com

Gagal menjadi hakim, Solihin akhirnya memilih menjadi seorang pengacara. Kedua profesi ini sama-sama penegak hukum. Kini dia menikmati pekerjaan sebagai pengacara. Dan sudah memiliki berbagai aset di sumatera dan jawa.Menurutnya pengacara merupakan pekerjaan terhormat. (DBS)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *